Ulasan Buku : Feminisme Dan Sosialisme oleh Muttia_Ate018 Reski Handayani

Judul buku : Feminisme dan Sosialisme
Oleh.            : Partai Sosialis Demokratik
Penerbit      : Bintang Nusantara
Pengulas     : Reski handayani

Peminisme dan sosialisme ini merupakan resolusi yang di sahkan pada konferensi nasional DSP keempat belas yang di selenggarakan pada bulan Januari 1992. Sejak berdiri pada tahun 1972, ini merupakan resolusi terakhir dari serangkaian Resolusi yang di sahkan oleh DSP dalam menganalisis asal usul penindasan terhadap perempuan, dan pentingnya perjuangan menghapuskan penindasan tersebut sebagai bagian dari perjuangan menghapuskan penindas tersebut sebagai bagian dari perjuangan untuk mencapai masa depan yang lebih berkeadilan sosial Demokrasi dan berkelanjutan secara ekologis untuk kita semua.

DSP dan organisasi pemuda sekawannya, resistance muncul dari perjuangan yang sama yang memunculkan kebangkitan gerakan pembebasan perempuan pada awal tahun 1970-an. Komitmen kuat atas pembebasan perempuan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan partai selama 25 tahun terakhir.

Kami terlibat dalam sebagian besar kampanye utama untuk hak-hak perempuan selama 25 tahun tersebut. Perjuangan untuk hakim perempuan dalam mengontrol reproduksi dan kesuburan yang di organisir oleh women’s Abortion Artion campaign., memperjuangkan agar gerakan serikat buruh mengangkat isukan tuntutan perempuan melalui working womans charter Champaign, yang telah memaksa BHP untuk mempekerjakan perempuan di industri baja miliknya diport kembali dan Newcastle dan membayar kompensasi atas praktek diskriminasi dalam perekrutan. Kampanye ini berhasil menjadi kasus class action yang pertama di Australia.

Saat ini feminisme dan hak-hak perempuan sedang berada di bawah serangan terberat sejak kurun waktu 40 tahun terakhir. Usaha untuk memundurkan kembali hak-hak yang berhasil dimenangkan oleh gerakan perempuan pada tahun 1970-an sedang mendapatkan momentum.

Kampanye ideologis melawan feminisme ini adalah bagian integral dari serangan yang dilancarkan oleh kelas penguasa terhadap seluruh ide-ide dan harapan progresif.

Memutar balikan kesadaran massa yang masih tersisa dari feminisme gelombang kedua bahwa perempuan memiliki hak kesetaraan pendidikan, di tempat kerja, pilihan pribadi dan kesempatan dan meyakinkan perempuan bahwa peran penting mereka adalah dalan keluarga. Hal ini terutama penting ketika kapitalisme ingin menciptakan tenaga kerja yang lebih fleksibel kerja paruh waktu, kontak dan outsourcing, buruh yang dapat dieksploitasi dan pemotongan tunjangan tanpa terkena resiko adanya gejolak politik.

Perlawanan terhadap pengikisan yang cepat terhadap pondasi yang dimenangkan oleh perempuan di tahun 1970-an sangatlah lemah.

Ini bukanlah karena massa perempuan tidak menyadari implikasi serangan ini atau tidak marah karenanya. Secara khusus perempuan muda berpartisipasi dalam sejumlah kampanye yang tersebar dalam berbagai front untuk menentang serangan ini.

Demikian juga dengan aktifis feminis yang di kenal sebagai sayap militian dalam gerakan, banyak yang terjebak dengan pelayanan perempuan ya di danai oleh pemerintahan, melakukan kerja sosial dan sering secara politik berkompromi karena ketakutan pendanaan akan dihentikan.

Dengan demikian kemandirian politik gerakan dan kesadaran massa seputar pembebasan perempuan terkurung dan di gerogi. Feminisme liberal yang berpandangan bahwa penindasan perempuan tidak lebih dari sebuah bentuk diskriminasi yang dapat di hapuskan di dalam sistem kapitalisme dengan cara sederhana yaitu memenangkan kesetaraan formal secara utuh semakin menguat, mencekik potensi Radikal gerakan.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *