Ulasan Buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Judul buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis : Mark Manson

Penerbit : Grasindo

pengulas : Risma Noviana/Bija015

Dalam karya pertama Mark Manson yang berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (The Subtle Art of Not Giving a F*ck) menjadi buku terlaris veris New York Times dan Globe and Mail ini membahas mengenai menghargai atas kehidupan dengan perduli terhadap sesuatu yang benar-benar harus di pedulikan karena kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting.

Terkadang orang akan mati dikarenakan kekhawatirannya sendiri, cemas hingga membuat dirinya semakin cemas dan terlalu cemas. Terlalu sedikit orang yang ambil pusing ketika merasa buruk atau mengalami hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Dalam buku ini hal tersebut dinamakan Lingkar Setan. Putuskan lingkaran itu dan berhenti membenci diri anda sendiri saat merasa begitu kecewa. Dalam kutipan buku ini “ anda tidak akan pernah bahagia jika anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan, Anda tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan”.

Dalam kajian Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat terdapat tiga seni yaitu :

  1. Masa bodoh bukan berarti acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat berbeda.
  2. Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesuliatan, pertama-tama anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.
  3. Entah anda sadari atau tidak, anda selalu memilih sesuatu hal untuk diperhatikan.

Buku ini membantu kita untuk berfikir sedikit lebih jelas untuk tepat dalam memilih hal yang harus dijadikan masalah dan diramu untuk menghasilkan suatu solusi. Inti dari kehidupan adalah masalah dimana solusi dari suatu masalah adalah masalah lain. Jangan menghindar dari masalah, hadapi dan berdiri gagah berharaplah akan hidup penuh dengan masalah-masalah yang baik. “cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan tidak. Usaha untuk mengembangkan kemampuan ini mengarah pada sesuatu yang bisa menjadi semacam pencerahan praktis”.

Hal yang sangat menarik perhatian saya dari buku ini salah satunya adalah jangan menjadi istimewa dan unik, kenapa ? karena hal itu akan menjadi pembatas diri untuk mengembangkan suatu hal yang tidak kita sadari,  banyak orang yang takut untuk menerima bahwa diri mereka biasa-biasa saja karena jika mereka meyakininya itu sama saja menggambarkan mereka tidak bisa melakukan apapun. Pemikiran semacam ini berbahaya,  segelintir orang berhasil disuatu bidang bukan karena mereka istimewa. Sebaliknya, mereka menjadi hebat karena sadar bahwa mereka biasa dan belum benar-benar luar biasa. Cukup jadi biasa agar tetap dalam poros berproses.

Nilai penderitaan, pada buku mengambil contoh kisah dari Letnan Duo Hiroo Onoda dari angkatan darat kekaisaran jepang yang hampir 30 tahun bersembunyi di hutan filipina untuk bertahan dari serangan tentara AS dengan kekuatan yang masih tersisa. Hingga akhirnya peperangan berakhir tapi Onoda masih berada di dalam hutan dan belum kembali. Pencarian terus dilakukan tapi hasilnya sama saja, onoda tidak ditemukan hingga akhirnya onoda menjadi legenda untuk masyarakat jepang waktu itu. Disisi lain muncul pemuda yang gila akan petualangan dan memutuskan untuk mencari onoda di hutan filipina bernama Norio Suzuki. Singkat cerita Norio dengan modal jiwa petualangnya masuk kehutan filipina seorang diri dan berhasil menemukan onoda dalam waktu 4 hari.

Suzuki bertanya kepada onoda mengapa dia tetap bertahan, onoda menjawab dengan sederhana : dia telah diberikan perintah untuk “jangan menyerah” jadi diapun bertahan. Onoda kemudian bertanya kepada suzuki mengapa bocah seperti dirinya datang untuk mencari onoda. Suzuki menjawab bahwa dia meninggalkan jepang untuk tiga hal : letnan onoda, panda dan yeti. Bagi kedua pria ini penderitaan mereka bermakna sesuatu, memiliki arti sehingga mereka dapat menanggung derita hingga menikmatinya.

Sekarang tentukan arah langkah kita, kita dilahiran untuk menjadi peduli dengan catatan ukuran tingkat kepedulian kita harus berkualitas. Berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan bahan kekhawatiran. Jadilah biasa yang menuju tahapan luar biasa. Nikmati penderitaan yang ada karena hal itu akan membawa kita kepada suatu tujuan.

 

#salam minsetto

 

 

Post Author: admin

1 thought on “Ulasan Buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

    Tanpa Nama

    (Januari 7, 2019 - 10:09 am)

    Keren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *