Ulasan Buku: Adam Hawa

Judul : Adam Hawa
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : ScriPtaManent
Pengulas : Fatiah

“Salah satu kecerobohan terbesar Tuhan adalah menciptakan lelaki” – h. 9

Ada dua hal penting dalam buku ini yang disuguhkan penulis, yaitu proses penciptaan Adam dan cara perempuan masa itu melawan patriarki. Kita tahu bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan dari tanah dan diberi ruh serta akal yang kemudian menjadikannya (manusia) ciptaan yang paling istimewa yang digembar-gemborkan mewakili sifat Tuhan.

Namun, dalam buku yang ditulis Muhidin ini sungguh sangat berbeda dengan kisah yang sering kita dengar bahkan yang tertera dalam kitab suci. Penulis menyajikan proses penciptaan Adam dalam dua versi. Pertama, Adam yang diciptakan dari tanah (sebagaimana yang kita ketahui) dan yang kedua, Adam yang dilahirkan oleh Tuhan sendiri bukan melalui vagina (Tuhan tidak berkelamin) tapi melalui ketiak-Nya.

Adam kemudian ditempatkan di Taman Eden. Lelaki perdana ciptaan Tuhan ini kemudian dipertemukan dengan Maia (perempuan perdana imajinasi Muhidin). Adam kemudian terpesona dengan rupa dan bentuk tubuh Maia. Bertahun-tahun Maia hidup diperkosa Adam dan mengikuti segala aturan yang Adam buat. Maia dilarang keluar dari tempat tinggal mereka (Rumah Batu). Maia disekap dengan dalih perempuan harus tunduk dengan perintah laki-laki karena Maia tercipta dari tulang rusuk Adam. Sebagai bentuk balas Budi, Maia harus patuh terhadap perkataan dan aturan Adam.

Hingga pada suatu ketika Maia tidak tahan lagi dengan perlakuan Adam dan memilih pergi, membawa dendam karena baru menyadari selama ini ia biarkan dirinya diperkosa oleh Adam. Bagi Adam, Maia adalah perempuan pembangkang. Sepeninggal Maia, Adam senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dihadirkan lagi makhluk perempuan lainnya yang memiliki sifat penurut. Diciptakanlah Hawa dengan takdir patuh dan hidup sesuai kehendak lakinya, Adam.

“Aku datang dari doa, doamu, Adam! Aku tercipta dari harapan, harapanmu, Adam!” – h. 59.

Kebersamaan Adam dan Hawa kemudian melahirkan si kembar terkutuk, Khabil dan Munah. Keduanya turut dan sujud kepada Hawa, setiap mereka ingin keluar rumah tak lupa menciumi telapak kaki Hawa. Tapi ini tidak berlaku untuk Adam, Ayah si kembar. Kehadiran si kembar membuat Adam semakin brutal akibat cemburu, Adam tak segan memukul Khabil bahkan Munah. Si kembar, seperti Maia juga menumbuhkan dendam kepada Ayah mereka sendiri.

Kemudian, Maia. Dipelariannya bertemu dengan Idris yang berbeda dengan Adam. Maia dan Idris lalu menikah dan memiliki anak perempuan bernama Marfu’ah. Diajarinya Marfua’ah cara terbaik membalaskan dendam Maia kepada Adam. Kehadiran Marfu’ah membuat Idris harus rela melepas kejantanannya akibat janji aneh yang Idris sepakati dengan Maia sebelum Marfu’ah lahir.

Lewat Maia, Muhidin memperlihatkan tokoh perempuan yang berani melawan perlakuan laki-laki yang kasar, semaunya, dan melecehkan perempuan. Melalui Hawa, Muhidin menggambarkan bahwa perempuan tetap makhluk yang lembut dan pemberi kasih tulus jika telah menjadi ibu.

Tentu banyak pembaca yang mengecam tulisan Muhidin ini. Apalagi penulis mengangkat hal sensitif dari segi Agama. Meski sebenarnya Adam dan Hawa dalam cerita Muhidin bukanlah Adam dan Hawa dalam kitab suci umat beragama. Tentu pula penulis tidak bermaksud merusak citra Adam sebagai manusia pertama, apalagi berniat melawan Tuhan. Pembaca dalam membaca buku ini sebaiknya memosisikan dirinya sebagai pembaca imajinasi gila Muhidin, dan tidak membenturkan dengan kisah manusia pertama yang sesungguhnya. Ketika membaca buku ini sebaiknya banyak-banyak beristighfar.

“…..Hawa dicipta bukan dari kepala Adam untuk jadi atasannya dan bukan pula dari kakinya untuk dijadikan alasnya, melainkan dari rusuknya, dari sisinya untuk jadi teman sekutu hidupnya. Rusuk itu dekat dengan lengan untuk dilindungi dan dekat di hati untuk dikasihi” – h. 63.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *