Ulasan Buku : Catatan Seorang Demonstran

Judul buku: catatan seorang demonstran

Penulis: soe hok gie

Penerbit:LP3ES anggota Ikapi

Pengulas: Ichsan Noor

Soe hok gie adalah seorang aktivis indonesia tionghoa, ia mahasiswa Fakultas sastra universitas indonesia jurusan sejarah tahun 1962-1969. Soe hok gie lahir 17 desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di pasifik dan meninggal 16 desember 1969.

Soe hok gie merupakan seorang cendekiawan yang ulung, terpikat dari ide pemikiran dan terus-menerus menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Semuanya berawal ketika Gie masih berumur 14 tahun lebih 3 bulan dan berada dikelas dua SMP strada. Peristiwa itu terjadi ketika seorang guru SMP seenaknya menurunkan nilai ujian disekolahnya. Menurut Gie hal itu tidak mungkin karena dia sadar bahwa dia terhitung sebagai seorang yang nomor 3 yang pandai didalam kelasnya. Ketika Gie tahu bahwa gurunya sewenang-wenang menurunkan nilai ujiannya maka dia menggoreskan kata-kata di dalam catatan hariannya

Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu Dendam yang disimpan lalu turun ke hati mengeras seperti batu“.

Soe hok gie sebenarnya menolak kekuasaan. Pengalaman pribadi dan pengalama politik dan hubungannya dengan kekuasaan menyebabkan dia mengambil sikap tegas terhadap rezim soekarno: meruntuhkan resim soekarno tersebut. Asal muasal semuanya tidak terlepas dan merupakan kelanjutan dari persoalan-persoalan politik tahun 1950-an. Semuanya mencapai puncaknya dengan meletusnya pemberontakan pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PPRI) pada tgl 15 februari 1958 disumatera dan disusul oleh perjuangan semesta alam (permesta), yang diproklamasikan pada tgl 2 maret 1958 dengan diumumkan bahwa daerah indonesia timur dalam keadaan darurat perang dan dikuasai oleh militer

Soe hok gie yang sangat dekat dengan Nugroho Nato Susanto yang dikenal juga dekat kolonel Suharto menjalin semacam hubungan dengan SSKD yang kelak menjadi SESKOAD, yaitu sekolah yang direncankan untuk mendidik kaum cendekiawan dalam uniform, yaitu militer yang dianggap memiliki kemampuan manajerial yang kelak bisa ditempatkan didalam posisi pimpinan di dalam negara. Soe hok gie melibatkan dirinya didalam kegiatan melawan soekarno secara habis-habisan dalam demonstrasi mahasiswa untuk meruntukkan rezim soekarno pada awal tahun 1966. Ketika mahasiswa berdemonstrasi melawan soekarno. Gie selalu menghubungkan dirinya dengan para tentara, baik untuk meminta pengamanan kepada tentara atau keperluan lainnya.

Soe hok gie secara sadae memberikan pilihannya untuk berserikat dengan tentara untuk melawan rezim soekarno. Peran Gie sendiri dan peran mahasiswa yang harus dimainkan oleh organisasi-organisasi mahasiswa.Gie melihat wajah kembar organisasi mahasiswa seperti KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Sebagai kekuatan moral dan kekuatan politik yang menuntut penilainnya sebagai pangkal kekuatan KAMI tetapi sekaligus pula sumber kehancurannya.

Namun kehidupannya sendiri, Gie berusaha untuk menjawabnya yaitu bahwa pergerakan dan organisasi mahasiswa adalah kekuatan moral dan yang tidak pernah mendasarkan tindakan-tindakannya pada perhitungan politik. Organisasi dan perjuangan mahasiswa.

Dia (Soe Hok Gie)  tegak berdiri di atas prinsip perikemanusiaan dan keadilan serta secara jujur dan berani menyampaikan kritk kritiknya atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa dan mengerikan karena ia maju lurus dengan prinsip-prinsip tanpa kenal ampun. Maka seringkali ia bentrok karena dianggap tidap taktis.

Buku ini mengajarkan kita  bagaimana agar kita tidak tertindas dan berani melawan ketidakbenaran dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *