Ulasan Buku: Dalam Diam Kita Tertindas

Judul buku : DALAM DIAM KITA TERTINDAS
Penulis: alto makmuralto
Penerbit: liblitera institute
Pengulas : Hariandi “muttia ate”

“kalau anda punya pengetahuan yang banyak, maka anda juga akan punya power yang besar”

(fuko)
Buku ini berisi persoalan yang terjadi disekitar kita dalam lingkup terbatas lokal, nasional, maupun global. Isu-isu seputar neoliberialisme, kapitalisme global dan semacamnya dibahas dalam buku ini.


Yoseph stiglis dalam pandangannya bahwa Ekonomi harus diregulasi oleh Negara, sementara teori neoliberialisme yang berkembang sekarang ini menekan Negara tidak boleh ikut campur dalam ekonomi. Pasar lah yang memiliki kuasa penuh dalam urusan ekonomi.


Alto menyinggung system pendidikan konservatif yang banyak di anuti oleh perguruan tinggi masa kini. Ialah system pendidikan Yang peserta didiknya dilarang. Idiologi pendidikan kita, kata faulo freire tidak bertujuan memanusiakan manusia tetapi dicetak menjadi calon tenaga kerja yang baik, yang tidak kritis, yang tidak banyak Tanya. “Kalau kampus masih mempertahankan system pendidikan konservatifnya maka dimasa depan kita akan kesulitan menemukan orang orang dalam segala bidang yang lahir dari kampus”


Menyadari hal itu mahasiswa mencari “kegiatan” lain di luar dari urusan akademik, misalnya berorganisasi atau berlembaga. Namun dorongan ini anehnya muncul bukan karna dorongan dari kampus atau institusi tetapi muncul dari kegelisahan personal sehingga terjadi “penyimpangan-penyimpangan akademis”
Dalam buku ini, membahas pelaku di dunia pendidikan senantiasa bertolak belakang dengan fikiran dan gerakan gerakan mahasiswa aktivis. Sebab system berfikir mahasiswa aktivis menggunakan system berfikir alternatif, kritis, dan tidak linear (mainstream).

Menurut alto dalam buku ini, ada 3 persyaratan kemajuan peradaban. Sebuah bangsa akan meraih kemajuannya, yakni : Stabilitas politik, Ekonomi, adanya semangat partisipatif dari masyarakat sipil.

Dari buku ini, pembaca khususnya mahasiswa di tuntun untuk berorganisasi karna salah satu manfaat organisasi mahasiswa adalah sebagai tempat mendapatkan pengetahuan, memperkaya informasi, sehingga suatu saat bisa berkonsentrasi real di masyarakat.”
Gerakan dan proyek sosial baru
Sudah saatnya gerakan mahasiswa (sosial) perlu realitas. Teori-teori gerakan sosial perlu ditafsirkan dalam konteks keindonesiaan sehingga tidak serta merta mengadopsi teori-teori gerakan radikal dari luar.

Sekalipun memuat kata baru namum GSB bukanlah gerakan sosial yang benar benar baru. Disebut baru karena agenda metode dan cita-cita perjuangan berbeda dengan gerakan sosial lama (marxime komunisme). Menurut james petras, sebetulnya terdapat kesamaan yang antar keduanya, namun setidaknya ada 5 hal yang membedakannya: pertama berdasarkan kategori aliran politik –yaitu, kanan ekstrim (neoliberal-neokonservatif), kanan tengah (sosial liberal), kiri tengah (sosial demokrat), dan kiri revolusioner (marxis-komunis)- actor dan watak GSB dikategorikan sebagai kiri tengah, sedangkan gerakan sosial lama merupakan kiri revolusioner. Kedua, agenda perubahan sosial dari kaum kiri tengah bersifat reformis (bertahap atau gradual:reformasi), sementara agenda perubahan sosial dari kaum kiri revolusioner bersifat revolusioner (radikal:revolusi), ketiga, pendekatan yang digunakan oleh kaum kiri tengah adalah pendekatan “identitas sosial” sementara pendekatan kaum kiri revolusioner adalah pendekatan ‘’kelas”. Ke empat, kaum kiri tengah percaya bahwa pemilihan umum, merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan demokrasi, mengganti pemerintahan otoriter, mengubah kebijakan neoliberialisme, dan menetapkan kebijakan yang pro rakyat kecil, sedangkan kaum kiri revolusioner menilai bahwa gerakan revolusilah yang merupakan jalan satu satunya untuk mewujudkan semua itu. Kelima, kaum kiri tengah memandang akar persoalan dari timpangan tatanan dunia adalah kapitalisme pasar bebas (free market capitalism) yaitu globalisasi neoliberal dan dominasi korporasi trans nasional (TNCs), sementara kaum kiri revolusioner menilai bahwa akar masalahnya adalah kapitalisme Negara (state capitalism) yaitu imperialism (militer ekonomi budaya) Amerika serikat itu sendiri.
Maka dari itu sebagai mahasiswa sudah saatnya kita harus lebih kritis dalam memahami system pemerintahan kita agar kita tidak tertindas dalam Negara kita sendiri. Saya sepakat dengan dengan ahmad wahid yang mengatakan “rasa tanggung jawab yang mesti ada pada setiap pemimpin atau orang orang besar, tidak hanya dicapai dengan niat tapi harus latihan latihan sejak muda”.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *