Ulasan Buku: Iblis Menggugat Tuhan

Judul buku: Iblis Menggugat Tuhan (The madness of God)
Penulis: swahni
Penerbit: Dastan Books
Pengulas: Nurul Annisa/Angkt: Muttia Ate
Pengetahuan berjalan tertatih dengan kaki yang patah.
Tapi kematian datang menyeruduk tak kenal ampun.
Telah ku saksikan orang-orang beriman yang berwudhu deng darah mereka sendiri, sementara air wudhu ku cuma sebatas  tinta.
   Dengan nama yang maha suci, bagimu yang membaca kata demi kata ini, ingatlah aku dalam doamu. Ingatlah aku agar dia juga mengingatku.
Memicingkan mata di depan Ka’bah, apa kiranya yang kau tahu tentang bangunan suci itu? Bahkan seandainya sang Ka’bah mampu membuka diri, tak satupun kata bisa kau sampaikan kembali kepada orang lain. Sungguh ia memang tak tersampaikan. Diamlah!  Kata-kata mu bukan akhir dari segalanya tak ada keseimbangan di situ. Semata-mata bobot satu kata menindih kata yang lain tak lebih. Jika kata mampu mengekspresikannya, maka kau belum menemukannya.
Manusia-manusia “lucu” Yang memuja dunia, membayangkannya (dunia) sebagai Tuhan dan menyekutukan-Nya. Setelah engkau menyempurnakan nya dan meniupkan roh suci-Mu kedalamnya, sekalian malaikat bersujud di hadapan Adam semua kecuali Iblis. Ia makah menghina dan bersikap kurang ajar. Hatinya penuh kebanggaan dan kesombongan serta pemberontakan terhadap junjungannya sendiri.
Engkau berkata, “wahai Iblis, kenapa kau tidak tunduk seperti yang ku suruh?  Apa yang menahan mu dari mengagumi apa yang kuciptakan dari keagungan-Ku? Lantangnya kau, sombong bahkan di hadapanku! “
Iblis berkata”Duhai, lihatlah apa yang telah engkau tinggikan daripadaku! Aku lebih baik darinya! Engkau ciptakan aku dari api. Bagaimana mungkin Engkau menyuruhku untuk tunduk di di hadapan mahkluk fana ini, yang bahkan hanya engkau buat dari tanah liat?”.
   Engkau barkata, “kau tak berhak untuk bersikap kurang ajar di sini. Terkutuklah kau! “.
   Iblis berkata, “jika engkau tunda pengadilan Mu sampai hari kiamat, akan kubuat umat seluruh manusia tunduk dan patuh sepenuhnya. “
  Engkau berkata, “Baik, kuberi kau kelonggaran. Sesungguhnya kau termasuk kaum yang diberi tangguh sampai hari kiamat nanti. “
   Iblis berkata, “wahai junjunganku, karena engkau telah membuatku tergelincir, maka dengan seizin-Mu ajan kusesalkan pula mereka (umat manusia). Akan ketipu mereka dengan kesenangan duniawi. Aku akan senantiasa berada di  sisi jalan milik-Mu. Akan ku datangi mereka dari belakang dan depan, dari sisi kiri dan kanan. Sungguh, pada saatnya nanti tak akan banyak Engkau dapatkan mereka sebagai orang-orang yang bersyukur. “
  Engkau berkata, “Aku Terima hal ini, dan segala ucapan-Ku adalah benar. Kecuali mereka yang tersesat dan mengikuti mu, sesungguhnya kau tiada memiliki daya apapun terhadap makhluk-makhluk Ku. Tuhan mu telah menempatkan diri sebagai pelindung mereka. Sekarang, pergi! Kau diusir dari sini!  Dan bagi mereka yang mengikuti mi, sungguh, akan kupenuhi neraka dengan kalian semua!. “
  Di keheningan malam, selagi bulan sabit menguntungkan di langit barat, Rasulullah SAW. Membawa Buhairah kesebuah tempat yang tak jauh dari situ. Di sana, Buhairah berkesempatan “menunggang” Buraq, “tunggangan” Surga, dan Rasulullah SAW. Membawanya ke luar kota, jauh dari keramaian dan hanya diteringai oleh kerlip anak redup cahaya bintang.
  Rasulullah SAW. Kemudian meninggalkan Buhairah di sebuah mata air dan aliran sungai yang rasanya manis.
  Ditempat itu Buhairah melihat seseorang dengan bentuk tubuh tak karuan duduk di bawah sebuah pohon kering. Orang itu memakai jubah rombeng seperti seorang darwis (sufi), dan menutupi wajah dengan  tangan sementara air mata darah tercurah banyak sekali dari kedua matanya bahkan sampai menggenangi sungai. Di tengah isak tangis, samar-samar Buhairah mendengar sebuah lagu mengalun dari bibir sangat darwis. Buhairah melangkah ke rah pohon agar dapat lebih dekat lagi, tapi si darwis mendengar langkahnya dan segera bangkit. Sepasang sayap hitam mengambang dari punggungnya. Kedua tangannya terkulai ke sisi tubuhnya menampakkan seraut wajah Iblis!
  Buhairah jatuh terjerembab sambil mengutuk nama Iblis karena sakitnya. Iblis tertawa mendengarnya, lalu berkata “wahai tukang intip yang ceroboh, kenapa kau kunjungi aku hanya untuk mengutukku dan memohon perlindungan-Nya?  Padahal bukan aku yang mendatangi mu. Aku bahkan tak pernah mengangumu wahai Buhairah. Engkaulah yang menggangguku, dan kini engkau mengutukku karenanya?!  Yang benar saja! “
  Buhairah berkata, “Aku mengutuk ia yang terkutuk, tak peduli apa situasinya”.
  Iblis tersenyum lalu berkata, ” Kau  mengutukku?  Sadarkah kau, bahwa kau tengah mengutuk ia yang telah dilaknat karena kutukannya’?! Aku mengutuk Adam yang juga diusir dari surga? Adam dan aku telah dikutuk Allah. Jadi, buat apa harus takut pada kutukan Buhairah.
   Buhairah berkata, “ketergelincirnmu sama sekaki tajam seperti ke tergelinciran Adam. Kau dikhianati oleh kesombongan mu sendiri dan bertingkah kurang ajar di Kerajaan Allah. Adam terusir dari surga juga gara-gara hasutan mu. Dan berbeda denganmu, hatinya amat pedih dan menyesal. Dengan segera ia memohon ampun dan mengaku salah pada Tuhan. Sedangkan dirimu, kau masih saja disini. Sungguh, kau memang tak lebih dari sesosok monster yang di butakan oleh kesombongan dan selamanya terkutuk. Adam jauh lebih baik dari padamu, pembuangan mu adalah sisi dari kejahatan mu sendiri. “
   Kening Iblis berkerut. Ia memandang tajam. “Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutan ku?  Kalau begitu,  atas hasutan apa aku melakukan dosa?  Tak ada gunanya kau mencaciku sebagai monster buta, karena itu sama saja dengan menghina dirimu sendiri. Saat aku menyembah Allah di pintu kerajaan-Nya, aku menuduh Adam dan seluruh keturunannya di hadapan Allah.
  Ingatlah kau bagaimana kejadiannya waktu itu? Apakah kau turut membela bangsamu (bangsa manusia) di hadapan Allah? Ataukah kau belum lagi lahir? Sekarang kau dengan lantangnya datang dan menuduh ku. Bagaimana bisa sangat penuduh diadili oleh Tuduhannya sendiri, dan masih harus diadili oleh tuduhannya sendri, dan masih harus di adili pula oleh si tertuduh?
  Adam saja tidak pernah berbicara sekasar itu padaku; tidak pula menyalahkan ku, walaupun aku telah menggiring nya ke kehancuran. Tapi dia tak akan pernah melupakan perannya dalam penghancuran ku. Aku bersekongkol melawan Adam hanya setelah Allah mengusir ku dari surga karena dia. Sekarang, dengan naifnya kau berani menghinaku dan meninggikan derajatnya(Adam) dengan omong kosong bahwa, ‘hatinya penuh kepedihan dalam penyesalan’.
  Bah! Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa dilangit dan bumi dimana aku tak menyembah-Nya. Sama sekali tak pantas bagimu untuk memandang sesama pemuja Allah dengan kebencian. Ibadahmu, walau di kalikan seribu kali umurmu, tak lebih dari setetes air dilautan dibanding cintaku pada-Nya. Apa hakmu menantangku  yang masih terhitung malaikat Allah ini, meludahi ku dengan fitnah bahwa aku membangkang kepada-Nya?  Jangan berani-berani mengaku pada Tuhanmu bahwa, ‘Aku lebih baik dari pada dia! ‘”
  Buhairah berkata, kalau begitu, bertobatlah!  Sujudlah pada Adam seperti yang diperintah kan-Nya. Lihat sendiri akibat kekereskepalaaanmu. Lihatlah tubuhmu yang kini legam dan rusak.
  Iblis berkata “bagaimana mungkin aku memohon ampun lantaran mematuhi keinginan Allah?  Aku tak mungkin menyembah siapapun  selain Allah, karena itulah perintah yang sesungguhnya. Pembuangan ini adalah ujiannya, untuk melihat apakah aku akan melanggar sumpah ku dan memuja seorang berhala. Lihatlah di balik jubah kemurkaannya, dan temukan bentuk sejati dari cinta-Nya. Lihatlah di balik gunung kutukan-Nya,dan selami permata kasih sayang dan ampunan-Nya. Jangan melihat wujudku semata-mata sebagai hukuman-Nya. Dibalik setiap bejana yang retak, pasti dia sisipkan anggur yang manis.
  Buhairah berujar” Jika memang cintamu pada-Nya benar-benar sejati, mana mungkin dia tega merusak wujudmu dan melempar mu keluar dari surga,wahai mahluk buta, lihatlah bagaimana jadinya kau kini! “
   Iblis berkata. ” Cintaku pada-Nya tak pernah luntur sejak aku berdiri di hadapan-Nya. Kau sendiri, kapan kau pernah bersama-Nya?  Sekali saja kau pandang matahari, sengatan cahayanya akan menyakitimu. Bahkan saat kau tutup lagi matamu, masih saja kayu rasakan sengatan yang membakar, apa lagi saat terik. Sedangkan aku, dalam keadaan buta pun masih melihat wajah-Nya!
   Jangan hanya mnilai fisik. Saat kutatap Adam, yang kulihat pun hanya tanah lempung. Jika aku memang tak lebih dari sekadar wujud yang buruk, maka kau sendiri tak lebih berarti dari debu.
  Jangan tertipu oleh lahir penampilan segala sesuatu. Mengabaikan kesejatian batin bisa membahayakan mereka yang ingin memahami makna keesaan ilahiah.
“Bagi sebagian orang tangan putih kebenaran tampak sebagai penyakit lepra- sama sekali bukan pembuktian. Namun bagi yang lain, tangan putih yang sama mampu menggantikan kebenaran yang diwakilinya. “
“Iblis itu layaknya batu dalam genggaman tanganmu. Ia adalah berhala keraguan yang cenderung di gandrung umat manusia…. Terserah padamu untuk membuang atau menggenggam batu itu erat-erat”.
“jangan biarkan kenangan menjadikanmu v berpuas diri.Apa yang engkau temukan selama pencarian adalah  hadiah-Nya bagimu.Tapi saat hadiah-Nya engkau buka jangan jadikan ia sebagai tujuan”.

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *